Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Kasus MBG Berulang, Dokter Ungkap Gejala yang Terjadi pada Tubuh Saat Keracunan

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

03 - Sep - 2026, 14:09

Placeholder
Menu makanan MBG yang diduga menjadi penyebab lebih dari 500 santri keracunan di Sidoarjo. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Kasus keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian. Dalam dua hari, ratusan orang dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.

Sebanyak 664 orang, sebagian besar merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami gejala keracunan massal setelah mengonsumsi paket MBG pada Selasa, 1 September 2026.

Baca Juga : Orang Tua Dipenjara, Masa Depan Anak 3 Tahun Korban Penganiayaan Jadi Perhatian Dinsos

Sehari berikutnya, dugaan kejadian serupa dilaporkan terjadi di Nganjuk. Sebanyak 49 orang yang terdiri dari 48 siswa SMAN 3 Nganjuk dan seorang guru diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu MBG pada Rabu, 2 September 2026.

Rangkaian kejadian tersebut membuat persoalan keamanan pangan kembali menjadi sorotan. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi (nefrologi), dr Decsa Medika Hertanto, kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh ketika seseorang mengalami keracunan makanan.

Menurut dr Decsa, keracunan makanan tidak selalu bisa dianggap sebagai gangguan ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Pada kondisi berat, kehilangan cairan akibat muntah dan diare dapat memicu komplikasi serius.

"Keracunan makanan. Dan ini yang sebenarnya terjadi di tubuh kalian," kata dr Decsa, dikutip dari akun Instagram pribadinya, Kamis (3/9/2026). 

Dr Decsa menjelaskan, prosesnya dimulai ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau racun. Tubuh akan mengenali zat tersebut sebagai sesuatu yang berbahaya. Respons awal yang dapat muncul adalah mual dan muntah.

"Begitu masuk makanan yang terkontaminasi bakteri, tubuh langsung menganggapnya sebagai musuh. Makanya, kamu langsung mual muntah," jelasnya.

Muntah tersebut pada dasarnya merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan zat yang dianggap berbahaya.

"Dan itu cara tubuh buru-buru mengeluarkan cairannya," lanjutnya.

Setelah masuk ke saluran pencernaan, bakteri atau racun juga dapat memicu peradangan pada dinding usus. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan diare.

"Di usus, bakteri atau racunnya ini bikin dinding usus meradang, jadilah diare hebat," ujar dr Decsa.

Menurutnya, diare juga merupakan respons tubuh untuk membantu mengeluarkan zat yang mengganggu saluran pencernaan.

"Ini sebenarnya juga mekanisme tubuh menyapu racun keluar secepat mungkin," katanya.

Masalah menjadi lebih serius ketika muntah dan diare terjadi berulang kali. Tubuh tidak hanya kehilangan air, tetapi juga elektrolit dalam jumlah besar.

"Ini yang ketiga, muntah dan diare terus-menerus itu bikin kamu kehilangan banyak sekali cairan dan elektrolit," jelas dr Decsa.

Kehilangan cairan yang cukup banyak dapat menyebabkan dehidrasi. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa memengaruhi organ lain, termasuk ginjal.

"Nah ujung-ujungnya bakal dehidrasi. Biasanya ginjal yang kena duluan, aliran darah ke ginjal menurun dan kalau dibiarkan dapat menimbulkan gangguan ginjal akut," sambungnya.

Baca Juga : Terjadi 576 Gempa Bumi pada Periode Agustus, Sebagian Guncangan Dirasakan di Jatim

Karena itu, keracunan makanan terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia tidak boleh disepelekan. Dehidrasi berat dapat berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan penanganan medis.

"Ini kenapa keracunan makanan pada anak dan lansia itu nggak boleh dianggap sepele," tandasnya.

Selain menjelaskan dampak keracunan, dr Decsa mengingatkan pentingnya mengenali kondisi makanan sebelum dikonsumsi. Masyarakat dapat memperhatikan perubahan pada makanan, termasuk warna, tekstur, lendir hingga aroma. Jika makanan menunjukkan tanda-tanda sudah rusak atau basi, sebaiknya tidak diteruskan untuk dikonsumsi.

"Mungkin yang bisa kita ajarkan untuk mencegah, biasakan untuk mengajarkan melihat makanan. Ada perubahan warna, ada lendir atau tidak, cium baunya," ujarnya.

"Kalau basi jangan diterusin, kalau nggak enak di awal langsung dimuntahkan. Intinya jika ragu, jangan dimakan. Sesederhana itu," sambungnya.

Namun, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu terlalu lama apabila sudah mengalami gejala keracunan.

Jika muntah dan diare terus berlangsung, kebutuhan cairan tubuh harus menjadi perhatian utama. Salah satu hal yang dapat dipantau adalah frekuensi buang air kecil.

"Dan kalau terlanjur keracunan, kunci utamanya jaga cairan tubuh. Lihat pipisnya berkurang atau enggak," kata dr Decsa.

Selain itu, muntah yang tidak berhenti dan kondisi tubuh yang sangat lemas juga menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

"Muntahnya enggak berhenti-berhenti. Atau kamu sampai lemes banget. Langsung aja segera ke rumah sakit," tegasnya.

Dr Decsa juga menyoroti pentingnya keamanan makanan dalam program penyediaan makanan dalam jumlah besar. Menurut dia, masyarakat memang tidak selalu dapat mengendalikan bagaimana sebuah program dijalankan. Namun, edukasi mengenai keamanan makanan tetap menjadi hal yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko.

"Karena kita ga bisa kontrol programnya, yang bisa kita lakukan adalah memberi informasi dan edukasi yang baik tentang makanan yang basi itu seperti apa," tulisnya.

Ia berharap kasus dugaan keracunan makanan tidak terus berulang dan pelaksanaan program dapat diperbaiki.

"Semoga juga programnya dibenahi dengan baik," harap dr Decsa. 


Topik

Peristiwa keracunan mbg gejala keracunan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ponorogo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri