Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Anak Muda dan Pengasuh Pesantren di Malang Berkumpul Jelang Muktamar NU, Hasilkan 9 Seruan Moral

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

09 - Jul - 2026, 15:33

Placeholder
Momen diskusi antara anak muda dan pengasuh pesantren di Malang menjelang Muktamar NU. (Foto istimewa)

JATIMTIMES - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah anak muda, pengasuh pondok pesantren, akademisi, hingga aktivis Nahdliyin berkumpul dalam forum "Jagongan Jelang Muktamar NU" yang mengusung tema Pesantren, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu malam (8/7/2026) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam itu menjadi ruang bertukar gagasan mengenai masa depan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyongsong abad kedua organisasi. Dari forum tersebut, lahir sembilan poin seruan moral yang diharapkan menjadi bahan refleksi menjelang Muktamar NU.

Baca Juga : Buntut Kasus Dugaan Pungli SWK Tambak Wedi, Wali Kota Eri Cahyadi Mutasi Lurah

Hadir dalam kegiatan tersebut pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho' Lukman Hakim; pengasuh Pesantren Rakyat yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Malang sekaligus Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang KH Abdullah Sam; Bendahara PC GP Ansor Kabupaten Malang Syahrul Karim; serta CEO Tugu Media Group yang juga Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang Irham Thoriq.

Turut hadir pula Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang Alauddin Alex, CEO Sabda Academy M. Yasin Arief, Ketua Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) M. Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, pengasuh Pesantren Rakyat Takhosus Gus Shidiq Zamzam, perwakilan ISNU Kabupaten Malang Hasyim, perwakilan Gusdurian Erik Priyanto, dosen Universitas Al Qolam Nurul Azizah, konsultan hukum Khoirul, serta peserta lain dari kalangan dosen, santri, dan mahasiswa.

Dalam paparan pembuka, KH Atho' Lukman Hakim menekankan pentingnya kader dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) kembali meluruskan niat dalam mengabdi.

"Jadi, kita harus menempatkan Allah SWT pada posisi sentral. Singkatnya, bagaimana segala tindak kita membuat Allah SWT tidak marah kepada kita dan rida kepada kita," ujar KH Atho'.

Ia juga menegaskan bahwa pesantren tidak sekadar menjadi tempat menuntut ilmu, melainkan telah menjadi sebuah cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

"Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi pesantren adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Pesantren adalah budaya yang adiluhung. Jadi pesantren selalu punya cara merespons keadaan ekonomi dan budaya kita sehari-hari," imbuhnya.

Sementara itu, KH Abdullah Sam berharap pesantren tidak meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi kekuatan utamanya, termasuk tradisi ruhani. "Kita dijaga oleh wirid-wirid para kiai, santri, dan jamaah di kampung-kampung. Tidak ada rasa khawatir sama sekali karena Allah SWT akan menjaga kita," katanya.

Menurut dia, pesantren memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia. Saat masa penjajahan Belanda, para gus atau putra kiai turut berkoordinasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ia juga berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap menjadi lembaga yang independen dan tidak berada di bawah pengaruh pihak luar, termasuk pemerintah. "Misal calon ketua umum jangan minta restu kepada tukang sirkus. Kalau tukang sirkus itu memberi makan, nanti mau tidak mau akan mengendalikan tukang sirkus tersebut," ujarnya menggunakan analogi.

Dalam kesempatan yang sama, M. Yasin Arief menilai pesantren yang belakangan mendapat sorotan perlu membangun narasi yang lebih positif agar citra baik pesantren semakin dikenal masyarakat. "Menurut saya ada tiga hal yang penting untuk didalami di pesantren, yakni teknologi, sains, dan cara berpikir," ujarnya.

Sementara itu, Irham Thoriq menekankan pentingnya pesantren mempersiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Menurut dia, masyarakat kini mulai bergeser dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri.

"Bagaimana pesantren bisa menyiapkan itu misalnya dengan keterampilan vokasional, kreativitas, dan lain sebagainya. Karena lahan kita untuk bertani sudah semakin menyempit, sehingga mau tidak mau kita harus menjadi masyarakat industri," katanya.

Sembilan Seruan Moral Jelang Muktamar NU

Sebagai hasil diskusi, forum "Jagongan Jelang Muktamar NU" menghasilkan sembilan poin seruan moral yang ditujukan sebagai refleksi sekaligus harapan menjelang Muktamar NU.

Baca Juga : Jadwal MPLS Ramah 2026 Resmi untuk TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga SLB, Ini Rangkaian Kegiatannya

1. Setiap kader dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di semua tingkatan diharapkan senantiasa kembali menata niat. Seluruh aktivitas diniatkan semata-mata untuk mencari rida Allah SWT melalui khidmah yang penuh keikhlasan.

2. Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan kembali kepada khittah sebagai kekuatan masyarakat sipil dengan melayani masyarakat dari berbagai lapisan melalui program-program yang berbasis kebutuhan umat.

3. Perlu terus dirajut sinergi antara agama, budaya, dan negara agar dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

4. Pesantren sebagai entitas penting dalam Nahdlatul Ulama (NU) perlu membangun narasi yang positif sekaligus terus mengembangkan sains, teknologi, dan cara berpikir yang relevan dengan perkembangan zaman.

5. Pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh anti-kritik serta harus terbuka menerima masukan dari berbagai pihak.

6. Pesantren sebagai entitas utama Nahdlatul Ulama (NU) perlu menyiapkan santri agar mampu berkiprah di dunia industri. Pergeseran dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri harus dijawab melalui penguatan keterampilan vokasional dan pembentukan pola pikir global.

7. Di lapangan masih ditemukan banyak siswa madrasah aliyah (MA) yang belum fasih membaca Al-Qur'an. Karena itu, diusulkan adanya tes membaca Al-Qur'an pada setiap jenjang pendidikan menjelang kelulusan. Sertifikat kelulusan tes membaca Al-Qur'an diharapkan menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

8. Sistem pendidikan pesantren dinilai sebagai sistem yang telah teruji oleh zaman dan berhasil melahirkan banyak tokoh bangsa. Karena itu, pesantren diharapkan semakin percaya diri dalam menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama (NU).

9. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan tetap steril dari berbagai bentuk intervensi pihak eksternal yang berupaya mengendalikan NU untuk kepentingan tertentu, termasuk intervensi dari penguasa.

Melalui sembilan seruan moral tersebut, para peserta berharap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi, melainkan juga menjadi momentum untuk memperkuat khidmah, menjaga kemandirian NU dan pesantren, serta meneguhkan peran keduanya dalam menjawab tantangan zaman melalui penguatan nilai-nilai keislaman, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat.


Topik

Peristiwa Muktamar NU NU Nahdlatul Ulama



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ponorogo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa