Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Pertamax Melonjak Jadi Rp16.250 Per Liter, PHRI Sebut Sektor Wisata Kota Batu Belum Terdampak

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Dede Nana

20 - Jun - 2026, 18:35

Placeholder
Ilustrasi. Sejumlah tempat wisata di Kota Batu masih ramai pengunjung. Kenaikan harga BBM non subsidi disinyalir belum berdampak instan ke sektor wisata, salah satunya karena segmentasi jenis bahan bakar kendaraan.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Kebijakan pemerintah yang resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax hingga menembus level Rp16.250 per liter dikonfirmasi belum memberikan dampak signifikan terhadap geliat sektor pariwisata di Kota Batu.

Sebelumnya, per 10 Juni lalu, harga Pertamax mengalami lonjakan cukup tajam sebesar Rp3.950 per liter dari harga semula yang dibanderol Rp12.300 per liter.

Baca Juga : Boncos Dihantam Kenaikan BBM dan Potongan Aplikator, Ojol Kota Batu Keluhkan Biaya Operasional Makin Mencekik

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, menilai bahwa belum adanya hantaman instan ke sektor pariwisata ini dikarenakan dampak kenaikan harga BBM akan sangat bergantung pada segmentasi jenis bahan bakar yang dikonsumsi oleh kendaraan para pelaku wisata.

"Misalnya, sektor perhotelan konsumsi BBM untuk kebutuhan operasional internal. Kalau kita pakai solar, kapasitas sebesar 5.000 liter itu sebenarnya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan operasional sampai setengah tahun," terang Sujud Hariadi, Sabtu (20/6/2026).

Sujud memaparkan bahwa cadangan bahan bakar yang dimiliki oleh hotel-hotel skala besar umumnya mempunyai masa pakai yang relatif panjang, sehingga tidak langsung sensitif terhadap perubahan harga harian di SPBU.

Kendati demikian, situasi di lapangan dipetakan bisa berubah drastis apabila pemerintah ke depan juga ikut mengatrol harga biosolar. Pasalnya, hampir mayoritas pelaku wisata mengandalkan biosolar untuk rantai pasok logistik serta transportasi massal seperti shuttle wisata hingga bus pariwisata. 

"Jika jenis bahan bakar biosolar dan solar ikut naik, efek domino berupa kenaikan harga bahan baku makanan hingga tarif bus wisatawan dipastikan akan terasa juga," imbuhnya.

Baca Juga : DPRD Desak Pemkot Batu Segera Tindak Lanjuti Catatan Kritis BPK RI: Jangan Terlena Predikat Opini WTP

Di sisi lain, struktur konsumsi energi pada destinasi wisata dan tempat hiburan di Kota Batu saat ini terpantau relatif aman berkat langkah efisiensi. Mayoritas pengelola wahana permainan kini telah melakukan transisi energi dengan mengandalkan daya listrik sebagai sumber energi utama operasional mereka untuk mengurangi ketergantungan pada BBM komersial.

Penggunaan BBM jenis solar pada industri wisata modern di Kota Batu kini telah bergeser fungsi menjadi instrumen cadangan (back-up) semata. Pihak pengelola wahana ataupun perhotelan baru akan menyalakan mesin genset berkapasitas besar jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman darurat pada jaringan utama milik PLN.


Topik

Ekonomi bbm phri kota batu pariwisata kota batu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ponorogo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi