JATIMTIMES - Banyak masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru tentang autisme. Tidak sedikit yang menganggap autisme sama dengan hiperaktif, keterlambatan bicara biasa, bahkan disamakan dengan gangguan fisik seperti down syndrome. Padahal, autisme merupakan gangguan perkembangan yang berkaitan dengan fungsi kognitif, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial anak.
Founder sekaligus CEO Malang Autism Center (MAC), Mohammad Cahyadi, menegaskan bahwa autisme bukan gangguan pertumbuhan fisik. Menurutnya, secara fisik anak autis umumnya tampak sama dengan anak lain sehingga banyak orang tua terlambat menyadari gejalanya.
Baca Juga : Polisi Selidiki Dugaan Pembuangan Bayi di Kawasan Makam Sanggrahan
“Autis itu gangguan perkembangan, bukan gangguan tumbuh. Secara fisik biasanya sama saja dengan anak lain. Yang terganggu adalah kognisinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi tersebut berbeda dengan down syndrome yang memiliki karakteristik fisik khas akibat kelainan kromosom. Dalam dunia medis, kromosom 21 merupakan salah satu dari 23 pasang kromosom manusia yang memuat instruksi genetik penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Tambahan salinan kromosom 21 menjadi penyebab utama terjadinya down syndrome.
“Kalau down syndrome itu fisiknya berbeda karena faktor kromosom 21 yang tidak diberikan Allah, sehingga wajahnya rata-rata sama, Mongoloid. Kalau autis, problem utamanya di perkembangan kognisi,” katanya.
Menurut Cahyadi, gangguan kognitif pada anak autis kemudian memunculkan berbagai gejala turunan. Salah satu yang paling terlihat ialah gangguan perilaku dan interaksi sosial.
“Simptom pertama biasanya di perilaku. Anak melakukan repetisi berulang ulang, minatnya terbatas, interaksi sosialnya problem. Simptom kedua di bahasa dan komunikasi. Banyak anak autis yang akhirnya tidak bicara,” ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat masih sering salah memahami kondisi hiperaktif pada anak. Menurutnya, hiperaktif memang bisa menjadi bagian dari ciri autisme, tetapi tidak semua anak hiperaktif pasti autis. “Hiperaktif belum tentu autism,” tegasnya.
Cahyadi menjelaskan autisme dapat terjadi karena faktor bawaan sejak lahir maupun dipicu kondisi tertentu pada masa awal tumbuh kembang anak. Salah satu faktor yang perlu diwaspadai ialah kejang akibat panas tinggi di usia dini.
Ia mencontohkan pengalaman menangani seorang anak dari Pasuruan yang mengalami panas tinggi selama hampir satu bulan ketika berusia sekitar empat tahun. Setelah diperiksa, anak tersebut diketahui mengalami infeksi pada selaput otak. Menurut pengakuan orang tuanya, sebelum kejadian itu perkembangan anak tergolong normal.
“Kalau sekarang muncul simptom spektrum, ya jelas karena ada triggernya. Tetapi kasus seperti ini tidak besar jumlahnya,” katanya.
Ia mengaku selama menangani anak autis sejak 2015, hanya menemukan satu kasus yang benar benar menunjukkan perubahan signifikan setelah adanya faktor pemicu kesehatan berat. Mayoritas anak autis, menurutnya, memang sudah memiliki spektrum sejak lahir.
Cahyadi juga menjelaskan pentingnya mencegah anak mengalami kejang berulang pada usia dini. Menurutnya, dokter spesialis anak selalu mengingatkan orang tua agar waspada terhadap step atau kejang pada tahun pertama kehidupan anak.
“Setiap kali kejang, ada neuron di kognisi yang bisa terganggu. Makanya dokter selalu wanti wanti jangan sampai anak sering step,” ujarnya.
Ia menambahkan kejang akibat panas tinggi berbeda dengan epilepsi. Pada epilepsi, gangguan akan menetap dan berlangsung sepanjang hidup anak. Sedangkan kejang karena panas tinggi belum tentu menimbulkan dampak permanen apabila segera tertangani.
“Saudara saya anaknya pernah step tiga kali, langsung dibawa ke rumah sakit dan sekarang normal sampai besar,” katanya.
Dalam perkembangannya, deteksi autisme kini juga dapat dilakukan jauh lebih dini dibanding beberapa tahun lalu. Jika dulu diagnosis baru bisa diprediksi setelah anak berusia tiga tahun, kini tanda tanda awal bahkan sudah bisa dikenali sejak usia enam bulan.
Menurut Cahyadi, ciri paling dasar terlihat dari respons sosial bayi. Anak normal umumnya memberikan respon berupa senyum, ekspresi wajah, atau tertawa ketika diajak bercanda oleh orang tua.
“Kalau anak autis sering cool saja. Dia diajak bercanda tetap datar, tidak ada respons sosial,” ujarnya.
Baca Juga : Jadi Wisata Edukatif, Museum Pahlawan Nasional Pejuang Buruh Marsinah Diresmikan
Selain itu, bayi juga bisa menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap benda yang bergerak atau berputar. Ia menilai kebiasaan masyarakat yang menggantung mainan berputar di atas bayi juga perlu diperhatikan.
“Kalau anak saya dikasih benda berputar begitu, dia bisa melihat terus sepanjang hari,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan orang tua agar tidak langsung menyimpulkan anak autis hanya dari satu gejala tertentu. Diagnosis harus dilakukan secara ilmiah menggunakan instrumen yang valid.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan gadget atau screen time menjadi penyebab autisme. Menurutnya, penggunaan gawai berlebihan tidak menyebabkan autisme, tetapi dapat memicu gangguan perilaku pada anak.
“Kalau karena kebanyakan HP lalu jadi autis, itu tidak ada. Tetapi behavior problem bisa terjadi,” tegasnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi, media sosial, dan budaya populer saat ini memang memengaruhi kondisi emosional anak. Ia mencontohkan fenomena anak yang tantrum ketika tidak dibelikan atribut budaya populer tertentu seperti tren K-Pop yang sedang digemari teman temannya.
“Kalau dulu anak tidak dituruti paling menangis biasa. Sekarang banyak yang tantrum karena emosional kontrolnya terganggu,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut merupakan gabungan pengaruh teknologi, budaya populer, serta perubahan pola asuh dalam keluarga modern. Akibatnya, banyak anak normal akhirnya menunjukkan perilaku yang sekilas mirip dengan autisme.
“Di kota kota besar sekarang banyak anak normal yang behavior-nya seperti autism. Kalau cepat ditangani biasanya enam bulan bisa kembali normal,” katanya.
Cahyadi juga menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai pemeriksaan autisme yang benar. Menurutnya, banyak orang tua datang ke psikolog, psikiater, atau dokter tumbuh kembang hanya mendapatkan observasi visual tanpa alat ukur ilmiah.
“Kalau cuma dilihat saja tanpa instrumen, itu tidak valid secara scientific,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa diagnosis autisme harus menggunakan instrumen khusus, observasi perilaku anak, wawancara dengan orang tua, hingga alat tes tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Menurutnya, layanan pemeriksaan paling valid dapat ditemukan di rumah sakit umum kelas A karena memiliki sistem pemeriksaan yang lebih lengkap dan terukur.
“Kalau di rumah sakit umum biayanya murah, tetapi antreannya bisa sampai satu bulan. Kalau mau cepat ya ke klinik swasta, tetapi biayanya lebih mahal,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa autisme bukan aib dan bukan pula akibat kesalahan sederhana dalam pola asuh. Menurutnya, pemahaman yang benar akan membantu orang tua melakukan deteksi serta intervensi sejak dini sehingga perkembangan anak dapat ditangani lebih optimal.
