Inilah Sosok Pahlawan Wanita Indonesia Berkerundung Syar'i yang Terlupakan | Ponorogo TIMES

Inilah Sosok Pahlawan Wanita Indonesia Berkerundung Syar'i yang Terlupakan

May 01, 2021 10:32
Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (Foto: IST)
Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (Foto: IST)

INDONESIATIMES - Pahlawan merupakan sebutan bagi mereka yang luar biasa berjasa bagi bangsanya. Melalui sosok pahlawan, simbol tentang perjuangan, membela kebenaran, dan pengorbanan senantiasa dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Sosok pahlawan itu tentunya patut dikenang karena sudah mempertaruhkan nyawanya untuk bangsa. Namun siapa sangka, ada beberapa pahlawan wanita Indonesia yang ternyata terlupakan.

Baca Juga : Dibintangi Kim Go-eun, Drama Terbaru "Yumi's Cells" Bakal Punya Beberapa Musim

Seperti diketahui, selama ini pahlawan wanita Indonesia yang terkenal antara lain  Cut Nyak Dien, RA Kartini, Cut Nyak Meutia, dan Dewi Sartika. 

Ternyata masih ada pahlawan wanita Indonesia yang terlupakan.  Dia berhijab syar'i. Lantas siapa dia? 

Syaikhah (syekh wanita) ini adalah pahlawan wanita asal Minangkabau yang tak pernah dimunculkan profilnya. Namun, pengaruhnya dalam dunia pendidikan sangat nyata. 

Bahkan sekaliber Universitas  Al-Azhar Mesir terinpirasi tindakan sosoknya. Yang tak kalah penting ialah, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada atau syar'i itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka. 

Syaikhah asal Minangkabau itu adalah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969). Ia merupakan salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia dengan hijab syar'i-nya yang tidak membatasi segala aktivitas dan semangat perjuangannya.

Wanita yang akrab disapa Rahmah ini adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktiivis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, serta pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. 

Ia lantas mengamati banyak masalah perempuan, terutama dalam perspektif fikih yang tak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki. Sementara murid perempuan enggan bertanya. 

Melihat kondisi itu, Rahmah lantas mempelajari ilmu fikih lebih dalam kepada Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) di Surau Jembatan Besi. Ia tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fikih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Hingga akhirnya, Rahmah bisa mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Didirikannya ,madrasah itu karena Rahmah ingin agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Tekadnya,: "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?"

Ia lalu meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar bisa diajarkan pada murid-muridnya. Rahmah juga belajar bertenun tradisional dan secara privat mempelajari olahraga serta senam dengan seorang guru asal Belanda. 

Selain itu, Rahmah mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit yang dibimbing oleh beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktik sendiri. Berbagai ilmu lainnya, seperti ilmu hayat dan ilmu alam, Rahma pelajari sendiri dari buku. 

Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu itu lantas ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya kepada murid-murid perempuannya. Hingga pada 1926, Rahmah membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah memilih menghindari aktivitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah.

Saat Belanda menawarkan kepadanya Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar bisa menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak. Ia mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik umat, dibiayai oleh umat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. 

Menurut dia, subsidi dari pemerintah justru akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri. 

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapat perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, Rahmah diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. 

Dalam kongres itu, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia. Lalu pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh.  Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera. 

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. 

Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, bersama para ADI, Rahmah mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. 

Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan ke para penduduk yang kekurangan makanan. Lalu, kepada murid-muridnya, Rahmah menginstruksikan seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk. 

Rahmah bersama para anggota ADI juga menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan itu dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah turut terjun ke dunia politik. 

Rahma lantas bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA). 

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. 

Baca Juga : BEM Unisba Blitar Gelar Doa Bersama untuk Prajurit KRI Nanggala, Mahasiswa: Mereka Adalah Pahlawan

Kemudian saat terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan. 
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. 

Jelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei. Sementara Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Hingga akhirnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. 

Bahkan Rahma tercatat sebagai orang yang pertama mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah. 

Saat Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah lantas mengangkatnya sebagai salah seorang anggota. 

Hingga pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Lalu pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. 

Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, untuk mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. 

Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini lantas menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Lalu saat Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda Kedua, mereka menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah pun meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. 

Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah 7 hari, Rahma dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. 

Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya. Hingga akhirnya pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. 

Rahma baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Ia diketahui bergabung dengan Partai Islam Masyumi. 

Dalam pemilu 1955, Rahma terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat lokasi Diniyah Putri. Imam besar itu sampai mengungkapkan kekagumannya kepada Diniyah Putri. 

Sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan. Lalu Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. 

Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan imam besar Al-Azhar. Dalam 1 Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan yakni “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar. 

Inilah kali pertana Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu kepada seorang perempuan. Hamka mencatat, Diniyah Putri sangat memengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. 

Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia. Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan tersebut, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tak nyaman berjuang di Jakarta hingga ia memilih kembali pulang ke Padang Panjang. 

Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Saat terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, Rahmah harus menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidup Rahma didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Terlihat melalui foto, Rahmah adalah sosok pahlawan yang mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya serta kemajuannya dalam berpikir. 

Topik
Pahlawan wanita terlupakan Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan wanita

Berita Lainnya