Cerita Pilu Istri Korban Meninggal Kecelakaan Maut Proyek RSI Unisma | Ponorogo TIMES
Proyek RSI Unisma Nekat Tabrak Aturan  2

Cerita Pilu Istri Korban Meninggal Kecelakaan Maut Proyek RSI Unisma

Nov 12, 2020 11:20
istri almarhum Lukman atau Rutman Priyono (31), Emi Indrawati (30) bersama anaknya saat ditemui di Jalan Teuku Umar, RT41 RW 10, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. foto anggara sudiongko .
istri almarhum Lukman atau Rutman Priyono (31), Emi Indrawati (30) bersama anaknya saat ditemui di Jalan Teuku Umar, RT41 RW 10, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. foto anggara sudiongko .

Insiden kecelakaan kerja maut proyek pembangunan gedung lantai 9 Rumah Sakit Islam Unisversitas Islam Malang (RSI Unisma) menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Satu bulan sudah berlalu sejak insiden kecelakaan maut itu terjadi, tepatnya pada Selasa (8/9/2020).

Untuk diketahui, kecelakaan kerja itu terjatuhnya Lift proyek tersebut menimbulkan lima korban jiwa pekerja. 

Baca Juga : Ditinggal Mati Suami dan Enam Anaknya, Nenek Tua Ini Tidur dengan Kambing

Dari kelima korban tersebut, wartawan malangtimes.com mendatangi salah satu keluarga yang ditinggal. Wartawan mengunjungi istri dari salah satu pekerja yang menjadi korban jiwa dalam insiden maut tersebut. Dia adalah Emi Indrawati (30), istri dari almarhum Lukman atau Rutman Priyono (31).

Untuk bertemu Eni, perjalanan cukup jauh dari Kota Malang menuju Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang harus dilalui. Sekitar 22 kilometer harus ditempuh untuk bisa sampai di rumahnya. Mencari alamatnya pun gampang-gampang sulit. 

Emi tinggal di Jalan Teuku Umar, RT41 RW 10, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, dekat dengan SDN 1 Sukopuro. Sebelum SD tersebut, terdapat sebuah gang jalan besar, yang kira-kira tak sampai 50 meter, kembali terdapat sebuah gang di antara jejeran rumah warga yang tetapi berada di pinggiran jalan gang besar merupakan jalan menuju rumah Eni. 

Sampai di situ, nampaknya bagi yang belum tahu, akan menyangka jika gang tersebut bukanlah jalan menuju ke sebuah rumah milik warga. Gang selebar kurang lebih sekitar 1,5 meter nampaknya juga begitu sempit jika harus lewat secara bersimpangan.

Tepat di belakang rumah warga itu, atau sesudah memasuk gang kecil itu, terdapat sebuah rumah yang masih berdinding bambu dan triplek. Dinding berwarna hijau juga menghiasi pintu dan kusen dari rumah tersebut. Isi dalam rumah, juga tak nampak barang-barang mewah. Yang bisa dilihat diruang depan, hanya sebuah kursi kayu dan juga sebuah sebuah dipan kayu dengan alas karpet dan spon tipis.

Saat media ini datang, situasi rumah nampak sepi. Namun di depan rumah, terdapat banyak anak kecil yang saat itu tengah asik bermain. Ya sambut tawa anak-anak juga mengiringi kedatangan kami. Disitu media ini kemudian langsung mencoba mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam. Situasi rumah yang sempat kami lihat didalamnya sepi aktivitas, terpecah setelah seorang perempuan berkerudung, mengendong anaknya keluar.

Perempuan tersebut, ternyata merupakan Emi. Dengan senyum ramah, dia menyambut media ini dengan baik dan mempersilakan masuk. Sembari menyambut, ia juga sedikit repot untuk menenangkan anaknya yang tengah menangis.

Tak lama setelah itu, usai ia menurunkan anaknya untuk bermain dengan anak-anak yang lain. Ia mulai duduk melakukan pembicaraan dengan media ini. Setelah panjang lebar media ini menyampaikan maksud kedatangannya, Emi kemudian mulai bercerita sepeninggal suami tercintanya.

Jika dulunya, secara ekonomi, ia begitu terbantu oleh dan suami, diakuinya jika sepeninggal sang suami memang cukup berdampak dalam perekonomian keluarganya. 

Setelah suaminya meninggal, saat ini, ia harus berjuang untuk mancari nakah sendiri untuk merawat dua anaknya. Saat ini Emi menekuni kegiatannya berjualan segala macam secara online. Disini, Emi juga menyediakan jasa kredit barang.

"Jualan online, sama kreditan juga, sesuai permintaan," Kata Emi, yang saat itu sesekali menyuruh anaknya untuk bermain.

Diakuinya jika hasil yang didapat jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam seminggu, dikatakannya ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Kendati begitu, dikatakan Emi jika berapapun hasil yang ia dapat, ia tetap mensyukuri itu.

"Kalau buat jajan sehari-hari alhamdulillah. Tapi alhamdulilah juga kadang ada tetangga yang bantu, anak-anak juga dapat rezeki santunan anak yatim," ungkapnya.

Untuk biaya sekolah anak-anaknya, Emi saat itu begitu bersyukur. Anak pertamanya yang bernama Muhammad Zlatan Galang (8) mendapat kebaikan hati dari seorang sahabatnya yang mau menanggung sekolah anaknya itu. Sehingga dari situ, ia begitu terbantu dan berterima kasih akan kebaikan hati sahabatnya itu.

Baca Juga : Psikolog Sebut Grooming Behaviour, Perilaku Sosok Penuh Pesona

Sementara, untuk pendidikan putra keduanya yang saat ini masih berumur 18 bulan, Arsa Aldian Fahrul. Emi tak ambil pusing dan tetap optimis. Perempuan ya g ditinggal dirumah tersebut bersama neneknya dan pamannya tersebut yakin, jika nantinya tuhan akan memberikan pertolongan an kelancaran untuk pendidikan sang anak.

"Saya yakin, nanti rezekinya pasti ada sajalah untuk sekolah si kecil," terangnya sembari tersenyum menunjukan raut wajah yang penuh dengan ketegaran.

Dari bicara terkait perekonomiannya, ia kemudian mulai menceritakan tentang sosok sang suami. Sang suami dikenalnya pada 2011 lalu saat tengah merantau di Ibukota. Saat itu ia kenal dengan suaminya lantaran sang suami sering berbelanja ke agen sembako tempat Emi bekerja. 

Usai saling kenal, dan terjalin hubungan serius. Emi dan Lukman kemudian sepakat untuk menikah dan kemudian pulang kampung. Usai menikah pada tahun yang sama, Lukman yang merupakan warga asli Jawa Tengah, kemudian menetap di rumah Emi.

Sosok Lukman merupakan orang yang bertanggungjawab bagi keluarga. Selain itu, ia termasuk pribadi yang sabar dan tak pernah mengeluh dengan kondisi yang dihadapi. Di lingkungan rumah, meskipun ia jarang keluar, ia merupakan pribadi yang ramah dan sering bertegur sapa dengan warga sekitar.

"Ketika sampai di rumah, mas Lukman selalu main bersama anak-anak, begitu sayang sama anak-anaknya. Kadang anak saya yang pertama ini kangen sama bapak, tapi dia sudah paham kalau bapaknya nggak ada. Kalau yang kecil karena belum paham, kadang suka manja sama pakdenya, mungkin dikira ayahnya," bebernya.

Sementara itu, perihal meninggalnya Lukman, diketahui Emi saat dihubungi oleh rekan kerja Lukman. Saat itu, sore hari sekitar pukul 15.00 wib, ketika Emi tengah memandikan anaknya, hp miliknya berdering. Ketika diangkat, terbayar merupakan rekan Lukman yang saya itu memberi kabar jika mengalami insiden kecelakaan. Saat itu, Emi mencoba tenang, lantaran dikatakan, rekannya jika saat ini Lukman tengah mendapatkan perawatan medis.

Namun tak lama, setelah itu, Emi mendapatkan kabar yang cukup mengejutkan, dan mungkin saja pada saat itu, membuat hatinya hancur. Suami tercintanya diberitahukan rekan kerjanya telah meninggal dunia. Seketika itu, air mata Emi jatuh tak terbendung membasahi pipinya. Ia tak menyangka, jika suaminya begitu cepat meninggalkan ia dan kedua anaknya.

"Nggak ada firasat apa-apa, cuman waktu pagi mau berangkat kerja sebelum kejadian itu, dia nggak pamit, padahal biasanya pamit. Nggak tau juga apakah karena tergesa-gesa atau lupa. Kalau pamit ya, 'Dek aku budal'," cerita Emi dengan kedua matanya yang nampak menunjukan  berkaca-kaca.

Usai mendapatkan kabar jika suaminya meninggal, Emi oleh pihak keluarganya ditahan untuk tidak melihat jenazah dari suaminya. Hal itu lantaran ditakutkan jika nantinya kondisi Emi bisa drop dan dikhawatirkan berpengaruh pada kualitas ASI-nya yang masih dibutuhkan anak keduanya. Emi baru mengetahui kondisi suaminya melalui sebuah foto yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian yang datang ke rumahnya. 

"Saya sudah mengikhlaskan, ini takdir. Umur kita nggak ikut punya, mungkin ini sudah jalan, Allah lebih sayang sama suami saya," pungkasnya.

Topik
Proyek RSI Unisma Nekat Tabrak Aturan kecelakaan proyek RSI Unisma Istri Korban Meninggal proyek RSI Unisma

Berita Lainnya