Bacabup HM. Sanusi saat bernyanyi dangdut bersa dua biduan perempuan di mini panggung usai launching tim kampanye SanDi, Rabu (5/8/2020). (Foto: Dok. JatimTimes)
Bacabup HM. Sanusi saat bernyanyi dangdut bersa dua biduan perempuan di mini panggung usai launching tim kampanye SanDi, Rabu (5/8/2020). (Foto: Dok. JatimTimes)

Aktivitas dangdutan Bupati Malang HM. Sanusi yang saat ini juga mencalonkan kembali sebagai Bakal Calon Bupati (Bacabup) Malang di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak di pusat hingga daerah. 

Salah satu kritikan tajam muncul dari Peneliti LSI (Lembaga Survei Indonesia) Denny JA, Dito Arief Nurakhmadi. Dito mengungkapkan bahwa masalah ini semakin menjadi bola liar akibat dalih-dalih dan pembenaran yang sengaja dicari oleh Sanusi. 

Baca Juga : Tak Sesuai Ekspektasi, Jelang Pertengahan Bulan Kasus Covid-19 di Malang Tambah 14 Pasien

Seperti diberitakan, selain menyebut acara dangdutan itu hanya electone-an, Sanusi mengkambinghitamkan para pekerja seni yang menurutnya butuh “tanggapan” (undangan acara). Dia juga menyatakan bahwa Covid-19 tidak seseram itu.

Atas jawaban-jawaban yang tidak bertanggung jawab itu, Dito mengatakan bahwa tindakan dangdutan Sanusi membuktikan bahwa Sanusi sebagai incumbent tidak mempunyai tim sukses yang memiliki sense of crisis.

"Sebagai incumbent beliau belum memiliki tim di sekelilingnya yang punya sense of crisis kuat terhadap psikologi masyarakat Kabupaten Malang," jelasnya.

Dito menyebut, saat ini justru Sanusi menciptakan blunder dengan terus berdalih dan melupakan inti dari kasus yang ia ciptakan. "Tim media dan tim komunikasi petahana tidak mampu memanage situasi dan memberikan jawaban-jawaban yang tepat, yang malah semakin menjadi bola liar di mata publik," tegas Dito. 

Hal itu juga dapat terlihat dari respons masyarakat dari berbagai elemen, pejabat pemerintah pusat hingga media yang memberitakan aksi dangdutan Sanusi di tengah pandemi Covid-19 menimbulkan sentimen negatif terhadap Sanusi.

"Saya mengkhawatirkan sentimen negatif tersebut akan mendorong munculnya apatisme dan skeptisme publik terhadap Pilkada Kabupaten Malang, karena aspek ketidaksukaan. Di satu sisi, belum muncul figur alternatif yang juga bisa diterima oleh masyarakat," ungkapnya. 

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Malang Raya ini mengatakan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh Sanusi dikhawatirkan akan membuat menurunnya tingkat kepercayaan publik kepada kepala daerah, serta mengakibatkan menurunnya partisipasi masyarakat di Pilkada Kabupaten Malang 2020.

"Saya melihat dampak yang terjadi salah satunya terhadap menurunnya partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya di Pilkada Kabupaten Malang mendatang," ucapnya. 

Baca Juga : Galakkan Gerakan Jember Bermasker. Bupati Faida Turun Langsung Bagikan Ratusan Masker

Dito yang juga sedang menempuh Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Brawijaya (UB) menyarankan kepada tim kampanye SanDi agar memperbaiki strategi politik sejak dini untuk mengantisipasi kejadian yang serupa kembali terulang. 

"Langkah-langkah yang semestinya dilakukan yakni langkah populis dan produktif, bisa mengambil simpati dan empati masyarakat. Jangan malah kemudian membuat ruang tembak untuk kandidat," tuturnya. 

Dangdutan yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 oleh Sanusi terselenggara di akhir kegiatan launching tim kampanye Sanusi-Didik (SanDi) pada hari Rabu (5/8/2020) malam di salah satu Rumah Makan di Kepanjen, Kabupaten Malang. 

Sementara itu dihubungi secara terpisah dan disinggung mengenai tanggapan dari peneliti terkait munculnya video yang viral dengan menunjukkan aksi dangdutan Sanusi bersama dua biduan perempuan di tengah pandemi Covid-19, yang menunjukkan Sanusi tidak mempunyai tim yang memiliki sense of crisis, Ketua Tim Kampanye Malang Makmur, Hari Sasongko tidak berpendapat banyak. 

"Ya sementara no comment, masih bekerja kita," singkatnya ketika dihubungi oleh MalangTimes, Selasa (11/8/2020).