Proses pembuatan baju bekas diubah menjadi busana batik ecoprint di Kota Malang. (Ahmad Amin/MalangTIMES).
Proses pembuatan baju bekas diubah menjadi busana batik ecoprint di Kota Malang. (Ahmad Amin/MalangTIMES).

Baju-baju bekas atau rusak seringkali hanya dimanfaatkan bagi sebagian orang untuk dibuang, disimpan di gudang, didonasikan atau ditumpuk saja.

Tetapi, di tangan pengrajin Kota Malang ini baju-baju bekas malah diubah menjadi busana yang cantik dengan pemanfaatan kreasi batik ecoprint.

Baca Juga : Penyewa Tenant Alun-Alun Mal Minta Keringanan, Wali Kota Malang: 'Maksimal 20 Persen'

Yeni Purwati, warga Jalan Ikan Hiu 2a, Kelurahan Tanjungsekar, Kecamatan Blimbing Kota Malang ini yang mengajak para ibu-ibu di wilayahnya untuk membuat kreasi dari baju bekas.

Ia mengungkapkan, ide membatik dengan memanfaatkan baju bekas tersebut bermula sejak pandemi Covid-19 ini melanda Kota Malang pada Maret 2020 lalu. Awalnya ia melihat baju milik keluarganya yang sudah tak terpakai dan terinspirasi agar bisa diubah menjadi layak pakai.

Kemudian, di bulan April 2020 ia mulai mengajak ibu-ibu di wilayah sekitar untuk ikut bergabung dan beraktivitas dengan mengkreasikan batik ecoprint.

Semula, ia bersama para ibu-ibu rumah tangga di wilayahnya itu mulai mengumpulkan baju bekas baik dari perorangan dan yayasan. Dari hasil pengumpulan itulah yang dipilah untuk dijadikan kreasi busana yang lebih bagus.

"Karena terlalu banyak baju bekas itu ada yang cacat, rusak, seperti jilbab segi empat itu. Jadi segi empat itu nggak kita buat kerudung tapi kita buat taplak. Lalu baju seragam sekolah kita manfaatkan juga dengan ecoprint menjadi baju biasa," ungkapnya.

Langkah ini juga sebagai bentuk memulihkan perekonomian bagi keluarga di wilayah sekitar saat pandemi Covid-19. Meskipun tak begitu besar, paling tidak para ibu beraktivitas dan bisa menghasilkan uang.

"Ini juga pandemi, paling nggak ibu-ibu yang di rumah dengan masa ekonomi sulit kita bisa menghasilkan walaupun nggak banyak," imbuhnya.

Dalam kreasi yang dibuatnya itu, mereka memanfaatkan aneka jenis dedaunan seperti daun pohon asam Jawa, daun blimbing, daun jeruk, daun pepaya, dan daun jati yang dibentuk sedemikian rupa.

Baca Juga : Kreatif, Pemuda Jombang Ini Olah Limbah Kartu Perdana Seluler Menjadi Miniatur Sepeda

Meski Yeni mengaku memang cukup sulit untuk mendapatkan bahan baku dedaunan. Tetapi dengan bantuan warga sekitar hal itu tetap bisa menunjang produksi yang dibuatnya.

Selain dedaunan, menurut dia bahan baku yang juga harus ada yakni plastik. Hal ini untuk menunjang pewarnaan yang akan dibuat pada baju.

"Ini kendala memang kita pakai bahan alami, jadi ibu-ibu di sini juga membantu. Ini juga gabungan dari RT-RT yang lain. Bahan yang digunakan kita butuh daun macam-macam sebetulnya semua bisa. Terutama baju bekas, terus plastik, biar warnanya itu lebih terlihat," paparnya.

Dari baju bekas yang telah disulap menarik menarik itu dijual mulai harga Rp 45 hingga Rp 65 ribu. Selain produksi dari baju bekas, Yeni bersama ibu-ibu lainnya juga menerima pesanan membatik dengan tarif Rp 30 hingga Rp 50 ribu setiap baju.

Berhubung usaha yang digelutinya masih seumur jagung, Yeni mengaku lebih menggencarkan lagi promosi melalui media sosial. Seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter.

"Selama pandemi Covid-19 ini memang kami terdampak dan omzet menurun hingga 80 persen. Jadi kita terus memaksimalkan promosi dan kerja sama dengan berbagai pihak supaya usaha ini tetap berjalan," tandasnya.