Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg dalam Webinar Nasional 2020 bertema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". (Foto: Ima/MalangTIMES)
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg dalam Webinar Nasional 2020 bertema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". (Foto: Ima/MalangTIMES)

Tepat di Hari Anak Nasional 23 Juli ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) mengadakan Webinar Nasional 2020 bertema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". Webinar yang digelar oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang tersebut berlangsung melalui zoom dan disiarkan di YouTube UIN Malang.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg menyampaikan bahwa mendidik anak bukan hanya dilakukan sejak dia lahir, melainkan sejak ia dalam kandungan. Bahkan, mengasuh anak agar menjadi baik dimulai dari ketika seseorang mencari jodoh yang baik.

Baca Juga : Perguruan Tinggi Tak Perlu Berebut Mahasiswa, Solusi Ciamik: Cross Register Student

"Kalau kita baca referensi kembang pendidikan Islam, mentarbiyah anak itu justru bukan sejak dalam kandungan, tapi sejak manusia itu memilih siapa jodohnya siapa yang akan ikut dalam memelihara anak itu," ucapnya.

Memilih jodoh yang terbaik, yang sholeh dan sholehah, kata Prof Haris merupakan salah satu upaya untuk mengasuh anak agar menjadi baik.

Sejatinya anak adalah titipan Allah SWT. Kata dia, para orang tua harus memberikan layanan pendidikan tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib kepada anak agar anak-anak kelak menjadi manusia yang sholeh, baik, serta memberi manfaat pada orang lain dan seluruh alam ini.

Tarbiyah adalah pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan dan perbaikan. Ta'lim adalah pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. 

Ta'dib adalah proses mendidik yang memfokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Pemberian layanan pendidikan ini juga harus dilakukan sejak anak  dalam kandungan.

"Maka saya sangat apresiatif dalam tradisi muslim di Jawa, mungkin juga di tempat lain, ketika ibu-ibu mengandung membaca surat-surat tertentu dalam Alquran. Ada yang membaca surat Maryam atau Yusuf meskipun dalam pengertian yang dangkal," katanya.

Kita tahu, dipercaya dengan membaca surat Yusuf saat hamil anak laki-laki, maka anaknya akan tampan dan soleh seperti Nabi Yusuf. Begitupun ketika membaca surat Maryam saat hamil anak perempuan, dipercaya bahwa anaknya akan lahir sebagai anak yang cantik dan soleh seperti Siti Maryam ibunda Nabi Isa.

Begitu pula apabila kita ingin anak menjadi ahli tertentu. Maka ketika di dalam kandungan, harus diberi rangsangan hal-hal yang berkaitan.

"Ini tanggung jawab yang luar biasa yang di ekskresikan dalam bentuk tradisi," ucapnya.

Meski demikian, dalam konsep Islam, tak hanya keluarga yang punya tanggung jawab terhadap anak-anak. Namun juga seluruh bangsa, bahkan seluruh dunia.

Baca Juga : Mahasiswa Boleh Ambil Kelas di Luar Prodi 3 Semester, Ini Contoh Hak Belajar yang Didapat

"Kalau ada anak di Amerika Serikat, di Cina, di Australia yang kemudian mereka tidak memperoleh layanan pendidikan, maka ditarbiyah, dita'lim, dita'dib agar anak-anak ini menjadi manusia yang yang layak. Kita di sini juga punya tanggung jawab untuk memperhatikan," pungkasnya.

Webinar ini pun dikatakan Haris merupakan salah satu bentuk perhatian UIN Malang terhadap masa depan anak-anak di Indonesia.

"Saya kira UIN Malang dengan PSGA ini satu lompatan yang luar biasa ini perlu dicatat di buku dunia bahwa ternyata yang punya perhatian luar biasa adalah UIN Maulana Malik Ibrahim. Ini artinya Indonesia ke depan di tangan UIN Maulana Malik Ibrahim," pungkasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Malang Sanusi mengucapkan selamat Hari Anak Nasional 2020. Ia berharap anak-anak khususnya di kabupaten Malang dapat tumbuh dan berkembang, terpenuhi hak-haknya, serta mendapatkan perlindungan secara optimal dan selalu hidup dalam keadaan sehat wal afiat.

"Jangan lagi terjadi kekerasan dan pelanggaran terhadap hak-hak mereka. Mari kita wujudkan keluarga, ruang publik, serta lingkungan sosial lainnya jadi tempat yang ramah untuk anak," tuturnya.

Dalam masa pandemi Covid-19 ini ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian semua pihak dalam menciptakan anak-anak yang berkualitas.