Ruang UKS SDN Rejoagung Ploso yang dijadikan tempat karantina. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Ruang UKS SDN Rejoagung Ploso yang dijadikan tempat karantina. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Seorang pemudik yang sedang menjalani karantina di gedung Sekolah Dasar Negeri Rejoagung, Kecamatan Ploso Jombang melarikan diri. Ia kabur lantaran merasa diganggu makhluk halus di sekolah tersebut.

Pemudik yang kabur dari tempat karantina itu adalah Gery Prasetyo (27), warga Desa Banjarsari, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang. Suami dari Dewi Rosa Jumiwa ini pulang kampung ke rumah mertuanya di Dusun Kopensari, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso pada (7/4) lalu.

Karena Gery pulang dari Italia yang merupakan negara terjangkit Covid-19, maka ia diharuskan menjalani karantina di desa tersebut. 

Pria yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) itu, dikarantina di gedung Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SDN Rejoagung sejak (7/4) kemarin. Namun, di hari keempat masa karantina, Gery nekat kabur.

Paman Gery, Sugiarto (65) mengatakan, keponakannya kabur dari tempat karantina lantaran ketakutan setelah diganggu oleh makhluk gaib yang ada di gedung SDN Rejoagung. Gery kabur dari tempat karantina pada Sabtu (11/4) dini hari.

"Ya dia kabur. Mungkin tempatnya angker begitu," ujarnya saat ditemui di Kantor Kepala Desa Rejoagung, Selasa (15/4).

Dari keterangan Gery, kata Sugiarto, keponakannya itu merasa ketakutan saat berada di dalam kamar karantina. 

Sejumlah tempat tidur yang berada di dalam ruangan itu terlihat beterbangan ke langit-langit kamar seperti dipermainkan sosok hantu.

Melihat kejadian itu, lanjut Sugiarto, Gery langsung lari keluar kamar dan kabur dengan meloncati pagar sekolah. Gery kabur menuju rumah mertuanya dan menceritakan kejadian tersebut.

"Katanya bangku tempat tidur itu terbang semuanya. Itu langsung spontan lari. Penjaga sekolah digedor juga tidak bisa bangun. Dia langsung loncat pagar dan lari pulang dengan menangis ketakutan seperti orang kesurupan," kata Sugiarto.

Gedung SDN Rejoagung Ploso ini dulunya merupakan bekas bangunan pabrik gula di era kolonial Belanda. Sekolah tersebut baru dibangun sekitar tahun 1964 oleh salah satu tokoh masyarakat setempat bernama Suprayitno. 

"Dulu ini pabrik gula milik Belanda. Karena di Desa Rejoagung belum ada sekolah, pak Suprayitno ini membangun sekolah untuk warga sini," kata Kades Rejoagung Sugeng, saat ditemui di kantornya.

Menurut Sugeng, kesan angker di wilayah sekitar SDN Rejoagung Ploso ini sudah dirasakan warga sekitar sejak lama. Namun, warga setempat menganggap hal-hal yang berbau supranatural itu sebagai hal yang biasa.

"Dulu itu kalau ada bau bunga melati orang sudah pada lari. Di sekitar situ dulu ada kolam ikan, banyak orang yang ditakuti di situ," kata Sugeng.

Mengenai warga yang kabur saat dikarantina lantaran ketakutan karena dihantui, dibenarkan oleh Sugeng. Ia mengatakan, Gery meninggalkan ruang karantina pada pukul 02.00 WIB.

Informasi yang didapat Sugeng, Gery kabur karena mengalami pengalaman mistis di ruang karantina. Semenjak saat itu, Gery tidak lagi mau kembali ke tempat karantina dan memilih menjalani karantina di kediamannya.

"Besoknya yang bersangkutan tidak mau kembali, dan minta karantina mandiri. Kita bolehkah dengan membuat surat keterangan," jelasnya.

Disampaikan Sugeng, Gery sempat dinyatakan positif saat berada di Italia. Di sana, Gery mendapatkan perawatan dan sembuh total dari paparan Covid-19. 

Saat pulang ke tanah air, Gery terlebih dahulu menjalani karantina di pulau Bali selama 14 hari. Dari situ, dipastikan bahwa Gery sudah terbebas dari Covid-19.

"Sekarang kondisi yang bersangkutan sudah sembuh dan dalam keadaan sehat," pungkasnya.(*)