Sosok karakter Slender Man yang disebut sebagai inspirasi NF melakukan pembunuhan sadis bocah usia 6 tahun di rumahnya, Jakarta Pusat. (Ist)
Sosok karakter Slender Man yang disebut sebagai inspirasi NF melakukan pembunuhan sadis bocah usia 6 tahun di rumahnya, Jakarta Pusat. (Ist)

Masyarakat Indonesia kembali gempar dengan adanya pembunuhan sadis di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pasalnya, pembunuhan sadis itu dilakukan anak berusia 15 tahun berinisial NF.

Korbannya pun masih berusia 6 tahun dan dibunuh dengan cara sadis yang tak terpikirkan bisa dilakukan oleh anak seusia belia itu.

Lebih mengejutkan, NF pun dengan tenang menyampaikan dirinya puas setelah melakukan pembunuhan itu. Tak ada ekspresi ketakutan, apalagi penyesalan, setelah melakukan pembunuhan itu.

Kepolisian yang bergerak pun dibuat terhenyak dengan apa yang ditemukan di rumah NF. Berbagai tulisan dan gambar mengerikan ditemukan di kamarnya dan sedikit menguak sisi kepribadiannya. 

"Perilaku remaja pelaku pembunuhan anak di Sawah Besar mengarah pada ciri psikopat," ucap psikolog dari Universitas Pancasila Aully Grashinta, Sabtu (7/3/2020) kemarin.
"Tapi untuk memastikannya, tentu perlu pemeriksaan yang lebih mendalam walau kecenderungan atau ciri psikopat memang ada," sambungnya.

Sementara, pihak kepolisian maupun psikolog masih menduga bahwa motif NF yang menenggelamkan korban di bak mandi, mencekiknya, dan memasukkan mayatnya ke lemari dipengaruhi paparan film-film psikopat yang ditontonnya. Salah satunya adalah film horor berjudul Slender Man (2018) besutan sutradara  Sylvain White dan ditulis oleh David Birke berdasarkan karakter dengan nama yang sama.

Dugaan itu mengarah dengan adanya gambar buatan NF terkait sosok Slender Man yang awalnya hanya karakter fiksi  yang berasal dari internet meme yang dikenalkan oleh Victor Surge pada tahun 2009.

Gambar pelaku pembunuhan sadis tentang sosok Slender Man (suara.com)

Berwujud seorang pria dengan badan yang sangat tipis dan memiliki banyak tangan, begitulah Slender Man digambarkan oleh NF. Tentunya wujud sosok itu berawal dari gambaran karakter dari video game dan akhirnya muncul di layar lebar.

Lantas bisakah paparan film psikopat, seperti Slender Man maupun film lainnya, mengubah psikologis penontonnya, khususnya anak-anak di bawah usia 17 tahun? Aully, seperti dikutip tempo.co, mengatakan bahwa tayangan audio visual memang sedikit banyak bisa memengaruhi perilaku seseorang. Sehingga berbagai film diwajibkan untuk mencantumkan rate-nya. Khususnya film-film yang mengandung kekerasan, pornografi dan sebagainya.

Apabila anak-anak di bawah usia 17 tahun terpapar terus-menerus dengan film itu, akan dimungkinkan besar terpengaruh. "Anak usia dini masih kesulitan untuk membedakan dan memahami mana yang imajinasi dan mana realitas. Jika pada usia itu anak sudah terbiasa menonton tayangan agresivitas, apalagi tanpa didampingi orang tua, semakin lama dia semakin sulit memahami bahwa hal tersebut adalah imajinasi,” kata Aully.

Dari mulut NF saat diperiksa kepolisian, pembunuhan yang dilakukan Kamis (5/3/2020) lalu dilakukan secara spontan. Anak berusia 15 tahun ini juga menyampaikan kerap menonton film horor, seperti Slender Man atau Chukky.
"Saya puas," ucap NF tanpa ada nada penyesalan.

Dari berbagai data yang diterima, kecenderungan adanya jiwa psikopat NF juga terlihat dari jejaknya sebelum kasus pembunuhan sadis itu terkuak atas laporan pelaku sendiri ke kantor polisi.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto mengatakan, NF kerap juga membunuh hewan dengan cara menusuk-nusuknya dengan garpu, seperti kodok dan cicak. Bila kondisi emosinya tak stabil, hewan peliharaannya, yaitu kucing, pun bisa dilemparnya dari lantai dua.

Dengan keterangan itu pula, ada jejak agresivitas NF sejak awal yang entah dipicu oleh apa, selain adanya stimulus dari tontonan film psikopat, horor, sadisme, yang disampaikannya ke kepolisian. "Jika terbukti pelaku adalah psikopat, diperlukan tenaga profesional untuk mengendalikan emosionalnya. Walau banyak penelitian membuktikan, psikopati kecil kemungkinan untuk sembuh," ucap Aully. Tapi, lanjutnya, untuk mengendalikan agresivitas tentunya bisa dilakukan dengan bantuan profesional.