Smart Feeder Unikama Ubah Pola Budidaya Ikan di Talangagung, Pakan dan Kualitas Air Dipantau dari Jarak Jauh

25 - Aug - 2026, 02:24

Mahasiswa Unikama melakukan pengembangan Smart Feeder berbasis Internet of Things (IoT) yang diterapkan pada Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Molek Jaya di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. (ist)

JATIMTIMES - Persoalan efisiensi dalam budidaya ikan tidak selalu berhenti pada persoalan produksi. Ketepatan pemberian pakan, keterlambatan mengetahui perubahan kualitas air, hingga ketergantungan terhadap pemeriksaan kolam secara manual menjadi bagian dari pekerjaan rutin yang menyita waktu pembudidaya.

Persoalan tersebut coba dijawab mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melalui pengembangan Smart Feeder berbasis Internet of Things (IoT) yang diterapkan pada Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Molek Jaya di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

2

Inovasi yang dikembangkan Tim Program Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (PPM-BEM) Unikama ini tidak dirancang sekadar sebagai mesin pemberi pakan otomatis. Perangkat tersebut mengintegrasikan sistem pemberian pakan, pemantauan kondisi air, pengendalian aerator, serta sumber energi surya dalam satu ekosistem teknologi.

Baca Juga : 3 Makanan yang Cocok Dibawa Saat Jenguk Orang Sakit, Biar Cepat Sembuh

Dengan sistem tersebut, aktivitas yang sebelumnya mengharuskan pembudidaya datang langsung ke kolam dapat dilakukan dengan bantuan perangkat dan aplikasi seluler. Pemberian pakan, misalnya, dapat diatur berdasarkan waktu dan takaran tertentu. Pembudidaya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada perkiraan manual dalam menentukan kapan dan berapa banyak pakan yang diberikan kepada ikan.

1

Aspek ini menjadi penting karena pakan merupakan salah satu komponen utama dalam biaya operasional budidaya ikan. Pemberian pakan yang tidak terukur bukan hanya berpotensi meningkatkan biaya produksi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi lingkungan kolam apabila terdapat sisa pakan yang tidak termakan. Smart Feeder kemudian ditempatkan sebagai instrumen untuk membuat pemberian pakan lebih terjadwal dan terukur.

Koordinator Lapangan Tim PPM-BEM Unikama, Candra Prasetyo, mengatakan pengembangan perangkat tersebut tidak berangkat semata dari keinginan menghadirkan teknologi baru. “Kami melihat kebutuhan yang ada di lapangan,” ujar Candra.

4

Menurut dia, teknologi harus memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan masyarakat yang menjadi pengguna. “Kami ingin membuktikan bahwa teknologi seperti IoT dan energi terbarukan bisa digunakan di tingkat desa,” katanya.

Tujuannya, lanjut Candra, adalah meningkatkan efisiensi dalam aktivitas budidaya. “Bukan hanya memperkenalkan teknologinya, tetapi bagaimana teknologi itu benar-benar bisa membantu pembudidaya,” ujarnya.

Pada sistem Smart Feeder, konektivitas IoT menjadi bagian penting karena perangkat tidak berdiri sendiri sebagai mesin otomatis. Data dan pengaturan sistem dapat diakses melalui aplikasi seluler sehingga pembudidaya memiliki instrumen untuk melakukan pemantauan dan pengendalian dari jarak jauh.

3

Salah satu fitur yang dibangun adalah pemantauan kondisi air. Perangkat dilengkapi sensor yang digunakan untuk membaca parameter lingkungan kolam, termasuk suhu dan pH.

Informasi tersebut kemudian dapat diterima melalui perangkat pengguna. Dengan demikian, perubahan kondisi kolam tidak harus selalu diketahui setelah pembudidaya melakukan pemeriksaan secara langsung.

Dalam budidaya ikan, kualitas air menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan ikan. Perubahan parameter lingkungan yang tidak segera diketahui dapat memengaruhi kondisi ikan dan berujung pada kerugian produksi.

Karena itu, keberadaan sensor dalam Smart Feeder memperluas fungsi perangkat dari sekadar otomasi pemberian pakan menjadi sistem pemantauan lingkungan budidaya.

Data yang diperoleh juga memberi peluang bagi pembudidaya untuk melakukan tindakan lebih cepat ketika terjadi perubahan kondisi perairan. Pengambilan keputusan tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi mulai didukung informasi yang diperoleh dari sensor.

Fitur lainnya adalah pengendalian aerator. Perangkat aerasi dapat dikendalikan melalui aplikasi sehingga pembudidaya memiliki alternatif untuk mengoperasikan peralatan tersebut tanpa harus berada tepat di sisi kolam.

Integrasi tersebut menjadi bagian dari konsep otomasi yang dibawa tim mahasiswa Unikama. Sejumlah aktivitas rutin yang sebelumnya dilakukan secara manual mulai dialihkan ke sistem yang dapat dikendalikan dan dipantau menggunakan perangkat digital.

Inovasi tersebut juga memiliki dimensi energi. Smart Feeder menggunakan solar cell sebagai sumber energi sehingga perangkat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik konvensional.

Baca Juga : Mengenal Ubi Bombing? Alternatif yang Diklaim Bisa Padamkan Karhutla

Pemanfaatan energi surya menjadi relevan dalam penerapan teknologi di lingkungan desa karena sistem dapat memiliki sumber energi alternatif. Ketika terjadi gangguan pasokan listrik, penggunaan energi surya dapat menjadi salah satu penopang operasional perangkat.

Dengan menggabungkan IoT dan energi terbarukan, teknologi yang diterapkan di Talangagung memiliki dua pendekatan sekaligus, yakni digitalisasi pengelolaan kolam dan diversifikasi sumber energi.

Smart Feeder secara resmi telah diserahkan kepada Pokdakan Molek Jaya dalam kegiatan pelatihan pada 23 November 2025. Program tersebut memperoleh dukungan dan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui anggaran 2025.

Bagi pembudidaya, perubahan paling terasa berada pada pola kerja. Sebelum perangkat diterapkan, pemeriksaan kondisi kolam dan pemberian pakan dilakukan secara manual. Pembudidaya harus datang langsung untuk memastikan kebutuhan ikan terpenuhi.

Pola tersebut membutuhkan waktu dan tenaga, terutama ketika pembudidaya harus melakukan pemeriksaan secara berulang. Smart Feeder kemudian menawarkan mekanisme yang memungkinkan sebagian aktivitas tersebut dilakukan melalui sistem digital.

Perubahan pola kerja itu juga berkaitan dengan efisiensi pengelolaan usaha. Ketika pemberian pakan dapat diatur lebih presisi, pembudidaya memiliki peluang untuk mengendalikan penggunaan pakan. Ketika kondisi air dapat dipantau secara berkala, potensi perubahan kualitas air juga dapat diketahui lebih awal.

Ketua Pokdakan Molek Jaya menyambut penerapan teknologi tersebut. Ia berharap manfaat inovasi tidak berhenti pada persoalan teknis budidaya.

“Kami berharap program ini memberikan manfaat,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan teknologi tersebut dapat mendukung pengembangan kegiatan kelompok. “Terutama untuk budidaya ikan,” katanya.

Ia juga menyinggung keterkaitan program dengan pengembangan Pokmas. “Termasuk program Pokmas dalam pemasaran,” ujarnya.

Di titik ini, penerapan teknologi tidak hanya berkaitan dengan perangkat keras. Kemampuan pengguna dalam mengoperasikan aplikasi, membaca informasi sensor, melakukan pemeliharaan, dan merespons data menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan inovasi.

Pendampingan menjadi bagian penting karena teknologi yang diberikan kepada masyarakat akan menghadapi kondisi penggunaan yang berbeda dengan lingkungan pengembangan di kampus. Perangkat harus dapat dipahami oleh pengguna dan dirawat agar tetap berfungsi ketika digunakan dalam aktivitas budidaya sehari-hari.